PLTN BUKAN PILIHAN BIJAK, NUKLIR HANYA UNTUK PENGOBATAN


Dulu, saya orang yang sangat mengagumi teknologi NUKLIR dan gregetan melihat Pemerintah tidak segera membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) untuk mengatasi krisis energi. Berdasarkan pengetahuan saya waktu itu, nuklir lebih murah, Indonesia mampu menguasai teknologinya. Apalagi Indonesia didukung oleh banyaknya Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang nuklir, beberapa diantaranya masuk dalam jajaran pakar. Bahkan, banyak SDM tanah air ini yang memiliki nama harum di dunia internasional. Kiprah mereka diakui bahkan jadi rebutan negara-negara pemilik teknologi nuklir seperti Amerika Serikat dan Rusia.

Satu lagi yang menjadi ambisi saya waktu itu (masih muda), yaitu penguasaan teknologi senjata nuklir. Sebab, dengan menguasai energi nuklir dengan memiliki PLTN, Indonesia hanya butuh satu langkah lagi untuk menguasai senjata nuklir. Dengan memiliki nuklir, Indonesia akan disegani oleh dunia, terutama Malaysia dan Singapura yang sudah berkali-kali menginjak-injak martabat dan jati diri bangsa dengan berbagai langkah politiknya. Jadi, apa yang ditunggu Indonesia, segera bangun PLTN. Itulah yang jadi pemikiran saya waktu itu.

Hal inilah yang membuat saya berpandangan sinis terhadap orang yang berseberangan. Orang-orang yang menghalangi pembangunan PLTN adalah orang-orang yang tidak mau Indonesia menjadi bangsa yang maju, atau istilahnya orang-orang yang menghambat. Banyak dari lembaga-lembaga swadaya masyarakat atau sering disebut LSM (dalam bahasa Inggris Non Governance Organization/NGO) yang jadi sasaran kemarahan saya atas tidak terbangunnya PLTN di Indonesia. Salah satunya adalah Green Peace.

Pandangan ini berubah setelah saya bertemu dengan Guru Besar UI. Prof. Ir. Rinaldy Dalimi, M.Sc, Ph.D. Beliau mengatakan bahwa membangun PLTN di Indonesia bukan pilihan yang bijak. Pernyataan ini sempat saya tolak, tapi setelah istirahat berfikir beberapa hari saya menyadari bahwa pernyataan Rinaldy ini perlu saya renungkan lebih dalam. Knapa tidak, lha wong Indonesia sendiri belum buru-buru membangun PLTN, kok saya buru-buru menolak pendapat salah satu pakar Indonesia ini.

Salah satu pernyataan Profesor Rinaldy yang membuat saya berfikir adalah:  "Negara-negara maju di dunia berusaha meninggalkan nuklir sebagai pasokan energi (PLTN), tapi mengapa ada beberapa orang ingin mendorong Indonesia membangun PLTN."

Ada tiga hal penting yang diucapkan Profesor Rinaldy, Pertama, Indonesia memiliki SDA yang banyak dan beragam. Kedua, Visi Global yang menyatakan tahun 2050 dunia internasional sudah mampu menyiapkan teknologi dan memproduksi 100% kebutuhan energi dunia dengan Energi Terbarukan (ET). Bahkan, Eropa yang dimotori Jerman menyatakan tahun 2040 sudah siap 100% ET untuk semua kebutuhan energi. Ketiga, pembangunan PLTN membutuhkan waktu sekitar 10-20 tahun. Jika Indonesia membangun PLTN pada tahun 2019, maka operasional PLTN akan dilakukan pada 2040-an. Pada saat PLTN beroperasi, dunia sudah meninggalkan nuklir sebagai pemasok energi. Saat ini saja, Jerman telah berkomitmen meninggalkan nuklir sebagai pembangkit listrik. Sehingga, akan sia-sia saja langkah Indonesia.

Faktor yang menjadi perhatian utama lainnya adalah energi nuklir sangat berbahaya. Tidak ada satupun pakar dan produsen nuklir di dunia yang mau menjamin potensi bencana nuklir bisa ditekan pada angka 0%. Mereka hanya mengatakan bahwa teknologi dan kedisiplinan yang tinggi bisa mencegah bencana nuklir. Tiga kecelakaan nuklir besar dunia, yaitu Chernobyl, Three Mile Island, dan Fukushima Daiichi membuktikan faktor bencana dan human error adalah tantangan terberat. Keselamatan rakyat Indonesia harusnya menjadi prioritas utama. Ini tidak boleh dikorbankan hanya untuk berbangga-bangga atau menakut-nakuti negara-negara tetangga.

Dengan membangun PLTN, berarti rakyat Indonesia (bukan pemerintah lho) akan kehilangan kesempatan mengunjungi seluruh tanah negeri ini. PLTN membutuhkan dua lokasi terlarang, yaitu lokasi PLTN dan lokasi tempat pembuangan limbah nuklir. Tidak boleh satu orangpun mengunjungi, bahkan mendekati wilayah tersebut karena bahaya radiasi bisa berdampak kepada kesehatan. Dua wilayah ini dalam kurun waktu ribuan tahun tidak bisa dikunjungi lagi olah khalayak umum. Adapun jika terjadi bencana (semoga tidak terjadi), maka daerah yang berbahaya untuk umum semakin luas. Belum lagi jika kita menghitung jumlah korban, baik manusia, hewan, maupun lingkungan sekitar.

Inilah alasan utama pembuatan blog ini, menghindari Indonesia agar tidak mengambil langkah yang nantinya menimbulkan dampak-dampak negatif yang merusak. Sebab, begitu membangun PLTN, dampak yang diberikan tidak bisa ditarik atau tidak ada penyesalan. Semua daya dan upaya harus dikerahkan untuk mengantisipasi dan mengatasi dampak negatif yang ditimbulkan oleh PLTN. Oleh karena itu, Indonesia sudah sepantasnya fokus pada pengembangan ET, mulai dari energi matahari, angin, air, panas bumi (geothermal), dan Bahan Bakar Nabati (BBN) yang sangat berlimpah di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementrian ESDM), sumber daya baru dan terbarukan Indonesia masih digarap sekitar 2 persen saja. Berarti, masih ada 98 persen yang belum tersentuh. Melihat angka ini, secara umum bisa dikatakan Indonesia belum menggali sumber daya energi baru dan terbarukan. Inilah potensi yang seharusnya kita fokus untuk menggarapnya.

Meski pengembangan energi baru dan terbarukan membutuhkan dana yang besar, tidak ada salahnya pemerintah mulai mendorong, dan konsisten mendukungnya. Sebab, dunia juga melakukan hal yang sama. Perlombaan teknologi dunia yang sebenarnya adalah energi matahari dan angin. Sementara, teknologi energi baru terbarukan lainnya seperti energi laut dan bioenergi sebagai penyemangat. Energi matahari dan angin paling prospek karena seluruh negara di dunia memiliki potensi ini. Faktor penting lainnya adalah matahari dan angin insya Allah akan tetap ada hingga akhir zaman.

Bagaimana dengan potensi energi fosil Indonesia yang berlimpah seperti batubara dan minyak (beberapa waktu lalu ditemukan potensi minyak terbesar di dunia di Aceh), dan gas? Penulis berpendapat bahwa potensi ini tetap digarap dengan baik. Potensi energi fosil seperti minyak, gas, dan batubara yang dimiliki dijadikan modal awal Indonesia sebagai energi yang mengantar menuju 100% ET di 2050. Energi fosil pasca 2050, dapat dikembangkan sebagai bahan baku industri atau disebut industri petrokimia. Ini adalah salah satu industri strategis yang dapat mendukung sektor pertanian (ketahanan pangan) dan bahan baku industri strategis lainnya.

Meski begitu, saya juga tidak setuju jika Indonesia meninggalkan rrrrrrrr jjjjjjjjrrhal terkait teknologi nuklir. Masih ada potensi positif di bidang nuklir, yaitu nuklir untuk pengobatan dan industri.  Teknologi nuklir jenis ini dapat dikendalikan dengan baik, dan tidak berbahaya bagi lingkungan. Bahkan, Indonesia telah menuliskan sejarah baik dalam bidang pengobatan ini.  Teknologi nuklir lainnya yang bisa digarap adalah nuklir fusi yang tidak memiliki radiasi rendah dan cenderung aman bagi manusia. Kedua teknologi nuklir inilah yang tidak memiliki polemik di masyarakat Indonesia dan dunia internasional. Semoga Allah SWT memberikan jalan kepada kita bagaimana bermuamalah dibidang energi untuk kesejahteraan umat manusia. Amin.

oleh : ahmad senoadi

Load disqus comments

1 komentar: