KEAJAIBAN SANG SURYA, MATAHARI SUMBER KEHIDUPAN

energi matahari insya Allah selalu ada

Energi surya (energi matahari) dan energi surya (energi matahari) lalu energi surya (energi matahari) yang menakjubkan. Alhamdulillah, Allah telah menciptakan matahari yang ternyata energinya bermanfaat bagi seluruh penghuni bumi. Cahaya dan panas (energi) matahari yang memancar ke seluruh tata surya, khususnya bumi ternyata sangat bermanfaat bagi manusia. Energi matahari merupakan sumber penting bagi semua kehidupan di bumi. Insya Allah, energi ini akan terus ada sampai akhir zaman. Hampir semua energi (kecuali energi panas bumi, nuklir, dan hidrogen) berasal atau dipicu oleh matahari. Energi matahari disimpan oleh tumbuhan dan hewan selama jutaan tahun didalam perut bumi, dan diekplorasi oleh manusia dalam bentuk energi fosil. Sementara, energi tumbuhan dan hewan yang langsung dimanfaatkan berupa kayu bakar dan biofuel. Energi matahari-lah yang memicu iklim, sehingga ada siklus air dan angin yang membentuk energi angin dan air.

Total energi surya (energi matahari) yang diserap oleh atmosfer, lautan, dan daratan Bumi sekitar 3.850.000 eksajoule (EJ) per tahun. Jumlah energi ini dalam waktu satu jam lebih besar dibandingkan jumlah energi yang digunakan dunia selama satu tahun. Total energi matahari yang terpancar ke permukaan bumi per tahun diperkirakan nilainya dua kali lipat dari penggabungan energi fosil dan nuklir. Potensi energi matahari yang sangat dasyat ini dilirik dunia sebagai energi terbarukan (ET) utama dunia di masa depan.

Manusia telah menggunakan energi matahari sejak awal, tapi lebih kepada panas dari sinar matahari. Kegiatan rumah tangga seperti menjemur pakaian, mengolah (mengeringkan) hasil pertanian dan perikanan sangat bergantung kepada sinar metahari. Namun, penggunaan energi matahari untuk listrik belum secara besar-besaran dilakukan. Padahal, potensinya sangat besar. Kendala utama adalah teknologi saat ini masih belum mampu menggunakan energi matahari secara efisien dan pada tingkat keekonomian.

Teknologi pembangkit listrik tenaga matahari (panel surya/fotovoltaik) yang ada saat ini memiliki tingkat efisiensi 12-19%. Berdasarkan teori, setiap 1 meter persegi panel panel surya dengan efisiensi 100% bisa menghasilkan 1.000 watt. Artinya, dengan teknologi saat ini, 1 meter persegi panel surya hanya menghasilkan 120-190 watt saja. Untuk menghasilkan energi yang memadai (besar) dibutuhkan instalasi panel surya yang lebih luas sehingga sangat mahal dibandingkan energi fosil seperti minyak bumi, batubara, dan gas. Teknologi fotovoltaik dengan tingkat efisiensi 30% memang sudah ada tapi harganya sangat mahal sehingga hanya digunakan untuk kebutuhan militer dan pemerintahan lainnya.

"Energi matahari adalah energi yang bisa dimanfaatkan secara gratis, tidak menimbulkan pencemaran, dan tetap ada hingga hari kiama, insya Allah."

Mulai tahun 1990-an, Dunia mulai melirik energi matahari (energi surya) ini setelah terjadi masalah lingkungan dan kemanusiaan akibat penggunaan energi fosil dan nuklir. Tingkat pencemaran yang semakin tinggi telah mengakibatkan pemanasan global yang memicu perubahan iklim. Bencana-bencana akibat perubahan iklim telah dirasakan manusia dan semakin lama diperkirakan bisa mengancam kehidupan di dunia. Sementara, energi nuklir sangat berbahaya dan terbukti telah memakan korban (bencana PLTN Chernobyl, Three Mile Island, dan Fukushima Daiichi). Pertimbangan lain, penggunaan energi biofuel dikhawatirkan akan mengacam pemenuhan kebutuhan pangan dunia dan energi ini juga tidak lepas dari masalah lingkungan seperti masih adanya polusi (meskipun lebih rendah dari fosil).

Meskipun tingkat efisiensi masih rendah, beberapa negara telah memanfaatkan energi matahari ini memenuhi sebagian kebutuhan energinya. Walau diakui, pemanfaatannya masih sarat dengan bantuan pemerintah berupa subsidi dan kebijakan lainnya. Banyak negara telah membuat proyek percontohan pemanfaatan energi matahari, diantaranya Amerika Serikat, China, Jepang, dan beberapa negara di Eropa. Ilmuwan dari Amerika, Jepang, Eropa, dan Australia telah menemukan panel surya dengan tingkat efisiensi 30% keatas dengan harga terjangkau. Namun, butuh penelitian 5-10 tahun lagi teknologi ini baru bisa diaplikasikan skala industri. Ada dua negara yang patut diacungi jempol dalam penggunaan energi surya secara masif, yaitu Jerman, Jepang, dan Spanyol. (kisahnya akan saya tulis kemudian, Insya Allah). Dua tahun terakhir, Amerika Serikat juga memulai beberapa proyek tenaga matahari berkapasitas besar.

Permasalahan inilah yang mendorong dunia untuk membentuk visi global 2050,yaitu penggunaan ET 100% di tahun 2050. Energi utama yang akan menjadi tumpuan adalah energi matahari, angin, air, panas bumi, dan hidrogen. Biofuel dipakai sebagai pendukung. Energi fosil dan biofuel akan dipakai sebagai energi yang mengantar menuju 100% ET. Dunia menjanjikan di 2050, efisiensi bisa diatas 50% Jika ini terjadi, maka akan ada perubahan positif. Apalagi jika harganya ekonomis. Bayangkan saja, jika satu rumah tangga dengan empat anggota keluarga memasang panel surya di atap rumah seluas 21 meter persegi (Rumah Sangat Sederhana/RSS) maka kita bisa menghasilkan listrik sebesar 10.500 watt. Jumlah ini lebih dari cukup untuk kebutuhan listrik rumah tangga, mulai dari memasak, mencuci, komputer, lemari pendingin (kulkas), pompa air, lampu penerangan, dan mesin cuci. Bahkan, masih mencukupi untuk motor listrik dan mobil listrik.

Meski begitu, kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dunia telah memasuki masa boom mulai 2006. Salah satu kontribusi nyata adalah peran China dalam produksi panel surya. PLTS buatan China dengan tingkat efisiensi 19% dan harga lebih murah membuat demam energi matahari semakin tinggi. China berencana meningkatkan produksi panel surya menjadi 70.000 MW pada 2017. Semakin terjangkaunya harga panel surya membuat kapasitas terpasang dunia meningkat dengan drastis. Tahun 2013 total kapasitas PLTS dunia tercatat 139 GW atau 1% dari total pembangkit listrik global. Dunia memprediksi kapasitas PLTS dunia akan naik tiga kali lipat menjadi 430 GW pada 2017. berdasarkan tren, sejak 2007, kapasitas terpasang panel surya meningkat dua kali lipat tiap dua tahun. Jika kondisi ini terjadi terus maka, dalam 20 tahun mendatang (2030) kapasitas terpasang bisa mencapai 30% dari total kapasitas pembangkit dunia. Dengan kata lain, energi surya akan menjadi energi yang dominan.

Beberapa ilmuwan bahkan berhasil menemukan panel surya berupa kaca bening. Aplikasi dari penemuan ini sangat dasyat, karena panel surya bening bisa diaplikasikan di semua kaca jendela. Berdasarkan perhitungan, penerapan panel surya bening ini sangat ekonomi untuk gedung baru dan renovasi penggantian kaca. Dinding rumah juga bisa menggunakan panel surya. Penemuan-penemuan ini membuat penggunaan energi matahari sebagai energi utama bukan sekedar ide semata, tapi realitas masa depan yang Insya Allah akan terwujud. Dunia yakin visi global 2050 akan tercapai, bahkan Uni Eropa sudah menyatakan akan mewujudkannya lebih awal, yaitu tahun 2040.

Untuk Indonesia, energi matahari ini sangat cocok dikembangkan. Pertimbangannya, berdasarkan teori intensitas pemanfaatan energi matahari tergantung pada jarak dari khatulistiwa. Indonesia sendiri berada tepat di garis katulistiwa sehingga masuk intensitas terbaik kedua di dunia.. Negeri ini diberkahi intensitas energi matahari 70-80% selama 6-8 jam sehari. Potensi energi surya di Indonesia sangat besar yakni sekitar 4.8 KWh/m2 atau setara dengan 112.000 GWp, namun yang sudah dimanfaatkan baru sekitar 10 MWp. Saat ini pemerintah telah mengeluarkan roadmap pemanfaatan energi surya yang menargetkan kapasitas PLTS terpasang hingga tahun 2025 adalah sebesar 0.87 GW atau sekitar 50 MWp/tahun.

Rendahnya kapasitas terpasang PLTS Indonesia ini harus disikapi dengan baik. Indonesia harus segera menggarap potensi energi matahari ini. Sebab, negara-negara maju, termasuk China, telah bergerak cepat untuk meraih dominasi terhadap energi surya. Partisipasi pemerintah, masyarakat, dan industri di negara-negara tersebut seperti sedang berpacu untuk meraih supremasi. Jika Indonesia tidak bergerak cepat, maka akan terjajah dalam bidang energi di masa datang. Ini adalah perlombaan global yang sudah berjalan, dan kita masih terlena dalam angan-angan kekayaan alam negara kita yang sangat besar.

Oleh : Ahmad Senoadi
Dari pemikiran dan berbagai sumber di internet


Load disqus comments

0 komentar