BPPT UJI RISET PRODUKSI PLTP UNTUK INVESTOR KECIL

BPPT uji coba PLTP di Pertamina Kamojang

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan uji riset membuat design Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). BPPT berharap designya lolos tes sehingga dapat dimanfaatkan oleh investor kecil untuk membangun PLTP di berbagai wilayah Indonesia. Pada tahap awal, BPPT akan melakukan uji riset di di wilayah kerja Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi milik PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) di Kamojang. BPPT membangun PLTP mini berkapasitas 3 Mega Watt (MW) dengan teknologi siklus biner asal Jerman. Teknologi ini diklaim dapat menghasilkan tambahan daya listrik hingga 500 Kilo Watt (Kw).

General Manager PGE Unit Kamojang, Wawan Darmawan mengatakan, "Nanti akan ada semacam titik serah di salah satu tempat seperti yang kami lakukan dengan pihak PT Indonesia Power (anak usaha PLN). Bedanya, kami tidak menjual uap. Ini sebagai satu studi penerapan teknologi pemanfaat panas bumi untuk pembangkit skala kecil."

Uji rise ini merupakan bentuk kerja sama antara PGE dan BPPT. PGE Kamojang sebagai pemilik uap dari lapangan Kamojang akan memasok uap ke pembangkit yang sedang dibangun BPPT. Nantinya, PLTP mini ini akan dikelola oleh BPPT. Wawan menjelaskan, pasokan uap untuk pembangkit berasal dari sumur panas bumi yang dikelola PGE di Kamojang, Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Uap pasokan bukan uap yang terbuang karena PGE menyediakan pasokan uap demi mendukung program BPPT dalam penelitian energi listrik terbarukan. "Karena kapasitasnya masih terbatas dan masih terus dilakukan uji coba, belum ada pembicaraan dengan penjualan listriknya," paparnya.

Sebagai pelaksana, BPPT mendesain rancang bangun pembangkit. Kemudian, BPPT melakukan pemesanan pembuatan komponen kepada oleh PT Nusantara Turbin & Propulsi (NIP), PT Barata Indonesia, dan PT Pindad. Lapangan panas bumi Kamojang dikelola PGE (anak usaha PT Pertamina (Persero) sejak 1983. PLTP Kamojang merupakan yang terbaik di dunia karena uap yang dihasilkan sangat kering (very dry) dan kelembabannya sangat rendah. Kondisi uap yang sangat kering dan kelembaban rendah memungkinkan uap untuk langsung masuk ke turbin tanpa proses kimia terlebih dahulu (chemical treatment). Pada PLTP lain, untuk mendapatkan uap berkualitas bagus proses chemical tretment dilakukan.

PGE Unit Kamojang saat ini memiliki dua unit 5 PLTP, 2 diantaranya dikelola secara mandiri. Unit 4 sebesar 60 MW dan unit 5 sebsar 35 MW adalah unit yang dikelola secara mandiri. Sementara, Unit 1, 2, dan 3 dikelola PT Indonesia Power dengan kapasitas 140 MW. Total kapasita PLTP di Kamojang tercatat 235 MW.

Upaya BPPT
Secara prinsip hampir semua pembangkit listrik membutuhkan uap untuk menghasilkan listrik. Uap dari panas bumi dimanfaatkan sebagai tenaga yang memutar turbin sehigga generator listrik bisa menghasilkan daya listrik. Jadi, beda pembangkit listrik panas bumi adalah mengunakan uap dari sumber panas di dalam bumi. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, saat ini Indonesia memiliki potensi panas bumi 28.100 MW. Potensi ini merupakan 40% dari potensi dunia. Potensi panas bumi tersebut tersebar di beberapa wilayah Indonesia yaitu Sumatera, Jawa, Bali, NTT, Sulawesi dan Maluku.

Arya Rezavidi, Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi (PTKKE) BPPT menjelaskan bahwa pemerintah mempunyai target pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi sampai dengan tahun 2025 adalah 9.000 MW, dengan tahapan 2.000 MWe (tahun 2008), 3442 MWe (tahun 2012), 4.600 MWe (tahun 2016), dan 9.000 MWe (tahun 2025). Namun, sampai ini baru 1.189 MW (4,3%) yang telah dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Tanpa adanya percepatan pengembangan, target tersebut akan sangat sulit dicapai. Oleh karena itu pemerintah telah menetapkan program percepatan pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW tahap ke dua, dan kontribusi PLTP sebesar 3.962 MW, dan saat ini terdapat 44 lokasi baru panas bumi yang sangat potensial sebagai market‚, tegasnya.

Arya menambahkan, BPPT saat ini memfokuskan pada pengembangan teknologi pembangkit panas bumi skala kecil di bawah 10 MW. Langkah ini ditujukan untuk menunjang investasi dari investor kecil. "Saat ini investor untuk skala kecil tidak banyak, maka peran pemerintah dituntut untuk mengembangkannya termasuk dalam hal teknologi. Disinilah peran BPPT dituntut untuk mendorong industri dalam negeri dalam mengembangkan atau memanufaktur turbin secara lokal. Salah satu investor yang mengembangkan skala-skala dibawah 10 MW adalah PT Nusantara Turbin dan Propulsi (NTP)‚.

Direktur Utama PT NTP, Supradekanto, yang juga hadir pada jumpa pers tersebut mengatakan bahwa dari sisi teknologi, selain pembangkit-pembangkit konvensionall NTP juga sedang mengembangkan teknologi Binary Cycle yang belum pernah diterapkan di Indonesia. Diharapkan pada tahun 2014, setidaknya sudah mempunyai satu desain dan manufaktur untuk skala-skala 1 MW Binary Cycle.

Pembangkit litrik geothermal ini dapat dimanfaatkan oleh pabrik gula dan kelapa sawit yang membutuhkan daya hanya 4 MW. BPPT sudah melakukan prototiping pembangkit kecil, yaitu pembangkit dengan kapasitas 450 Hp dan 2MW. Untuk pembangkit berkapasitas 3 MW dan 4 MW proses penelitiannya sedang berjalan. BPPT telah dalam tahap desain menuju ke 2 MW dan akan naik sampai sekitar 5MW. Sedangkan untuk turbin uap yang bukan geothermal penelitian dilakukan pada pembangkit berkapasitas 7 MW hingga 10MW.

BPPT, PT NTP, dan beberapa mitra kerja tengah membangun apa yang disebut klaster industri turbin. Klaster terdiri 16 perusahaan, dengan rincian 2 BUMN (Badan Usaha Milik Negara, PT Barata Indonesia dan PT Pindad) dan 10 lainnya merupakan rekan-rekan kerja dari UKM yang berlokasi di di Cimahi, Bekasi dan Cikarang.

Direktur Pertamina Geothermal Energi (PGE), Abadi Purnomo menjelaskan, PGE mendukung BPPT dalam mengembangkan teknologi pembangkit listrik geothermal berskala kecil. Pertamina secara umum akan mendukung upaya-upaya yang bisa menghasilkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. "Jadi itulah tujuan kita bekerjasama dengan BPPT untuk mensupport dari sisi industrinya dan kepada BPPT sebagai lembaga riset and development bisa didorong bagaimana turbin-turbin ini bisa kita manfaatkan karena kita lihat tidak semua daerah itu mempunyai potensi geothermal yang besar" ujarnya.

"BPPT telah merancang bangun dan menguji prototipe PLTP Binary Cycle dengan kapasitas 2KW, dengan menggunakan fluida hidrokarbon sebagai fluida kerjanya. Seluruh sistem dan komponen utamanya seperti turbin, evaporator, kondenser dan sistem kontrol didesain dan dibuat sendiri oleh tim panas bumi BPPT", tambah Arya.

Rencana kegiatan dari tahun 2010 hingga 2014 tentang Pengembangan PLTP Skala Kecil di BPPT meliputi terdiri dari 2 kegiatan utama, yaitu; pengembangan PLTP Binary Cycle dengan kapasitas 1 MW (target 2014) melalui tahapan prototipe 2KW (2008) dan pilot project 100KW (2012), dan pengembangan PLTP teknologi condensing turbine dengan kapasitas 2-5 MW (2011 dan 2013).

Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk pemerintah dan industri ketenagalistrikan nasional yaitu dalam hal engineering design yang optimal tentang teknologi PLTP Skala Kecil, dan peningkatan kemampuan industri nasional dalam manufaktur komponen utama PLTP‚, katanya lebih lanjut.

Oleh : ahmad senoadi
Dari berbagai sumber.




Load disqus comments

0 komentar