INDUSTRI GRASIFIKASI BATUBARA AKAN DIBANGUN DI MUARA ENIM DAN MESUJI

skema gasifikasi batubara indonesia

Memiliki industri pengolahan batubara dan turunannya sudah menjadi dambaan Pemerintah Indonesia. Beberapa upaya telah dilakukan, salah satunya mengundang investor dalam negeri dan luar negeri. Gasifikasi batubara telah dilirik oleh investor, salah satunya upaya yang dilakukan oleh Kementerian Perindustrian.

Kementerian Perindustrian tengah menggenjot pemanfaatan batubara domestik untuk industri. Rencananya, akan dibangun industri gasifikasi batubara dan turunannya di Muara Enim serta Mesuji. Kementerian Perindustrian mengungkapkan, rencana pembangunan industri petrokimia di Muara Enim diperkirakan membutuhkan batu bara sebanyak 4,2 juta ton per tahun.


Itu dari cadangan batubara setempat sebesar 438.000 juta ton dan akan menyerap tenaga kerja 1.196 orang; Sementara itu, rencana pembangunan industri serupa di Mesuji, Lampung diperkirakan bakal melahap batubara sepuluh juta ton per tahun dari cadangan batubara setempat sebesar 820 juta ton. Serapan tenaga kerja langsung diprediksi 1.513 orang dan 20-30 ribu pekerja tidak langsung. “‎Pembangunan industri gasifikasi batubara dan turunannya di Muara Enim serta Mesuji akan menggunakan bahan lokal lebih banyak. Selain itu akan menyerap ribuan tenaga kerja,” begitu Kementerian Perindustrian mengatakan.

Dia menambahkan, industri sangat dituntut perannya untuk melakukan konservasi dan efisiensi energi karena merupakan pengguna energi nasional terbesar sekitar 40 persen. “Upaya itu dilakukan melalui program restrukturisasi permesinan industri, penerbitan standar industri hijau, penyusunan standar intensitas energi dan penerapan manajemen energi pada industri yang lahap energi (semen, baja, pupuk/petrokimia, pulp dan kertas, keramik, tekstil, makanan dan minuman).”

PTBA Jadi Pioner
PT Bukit Asam, Tbk (PTBA) akan menjadi pioner dalam industri gasifikasi batubara. PTBA menandatangani kontrak kerja sama hilirisasi batu bara dengan PT Pertamina (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero) dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk akhir 2017. Dengan adanya kerja sama ini, batu bara dari PT Bukit Asam akan diubah menjadi beragam produk akhir yang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi dengan menggunakan teknologi gasifikasi.

PTBA mengatakan, sebagai tindak lanjut dari kerja sama itu, pihaknya bersama dengan Pertamina, Pupuk Indonesia dan Chandra Asri Petrochemical akan membentuk joint venture untuk membangun pabrik pengolahan gasifikasi batu bara. Pabrik tersebut akan dibangun di kawasan Bukit Asam Coal Based Industrial Estate (BACBIE) yang berada di mulut tambang batu bara Tanjung Enim, Sumatra Selatan.

PTBA menyebut, pabrik dengan teknologi gasifikasi itu akan mengkonversi batu bara muda menjadi syngas. Selanjutnya, syngas dapat diolah kembali menjadi sejumlah produk turunan lain yakni Dimethyl Ether (DME) sebagai bahan bakar, urea sebagai pupuk dan polypropylene sebagai bahan baku plastik. "(Industri Gasifikasi) ini memberi nilai tambah pada batubara," jelas PTBA.

Pabrik pengolahan gasifikasi batu bara itu sendiri ditargetkan dapat mulai beroperasi pada 2022 mendatang. Saat ini, Arviyan menyebut, pihaknya sudah mulai melakukan studi kelayakan. Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Aas Asikin menambahkan, kerja sama hilirisasi batu bara ditargetkan dapat menghasilkan gas dengan harga yang lebih kompetitif. Sebab, menurut Aas, salah satu tantangan di industri saat ini adalah masih tingginya harga gas yang merupakan bahan baku untuk pupuk.

Sementara, Presiden Direktur PT Chandra Asri Petrochemical Tbk Erwin Ciputra mengatakan, polypropylene yang akan dihasilkan dari proses hilirisasi nanti akan membantu memenuhi kebutuhan polypropylene di dalam negeri. "Saat ini produksi polypropylene belum mencukupi kebutuhan dalam negeri sehingga kerja sama ini akan mengurangi impor," kata dia.

Sumatra Selatan terpilih menjadi lokasi proyek percontohan untuk pengembangan teknologi gasifikasi batu bara bawah permukaan untuk mengoptimalkan penggunaan komoditas tersebut. 

Proyek Percontohan
Pilot project yang dilakukan oleh Badan Litbang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kementerian ESDM ini akan diterapkan di wilayah kerja pertambangan PT Bukit Asam (Persero) Tbk, Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumsel. Kepala Bidang Pertambangan Umum Dinas Pertambangan dan Energi Sumsel Izromaita mengatakan jika teknologi gasifikasi batu bara bawah permukaan (underground coal gasification / UCG) berhasil diterapkan maka dapat menjawab kendala penambangan yang kerap terjadi selama ini. "Kendala selama ini kan menambang butuh lahan luas belum lagi konflik dengan masyarakat terkait lahan maupun transportasi angkutan, teknologi ini sendiri akan menjawab kendala-kendala itu,"katanya, Kamis (25/7/2013).

Menurut dia, UCG tidak memerlukan lahan yang luas karena proses gasifikasi langsung di bawah permukaan. Selain itu UCG menghilangkan tahapan pengangkutan yang biasa dilakukan pada gasifikasi batu bara di permukaan. Dia melanjutkan terpilihnya Sumsel menjadi lokasi proyek percontohan ini berdasarkan pada cadangan batu bara yang luas disertai dukungan pemerintah daerah dan kesiapan dari PTBA.

Izro mengatakan teknologi ini sebetulnya sudah diterapkan oleh negara lain, seperti Rusia, Selandia Baru dan Amerika. Oleh karena itu pihaknya optimistis eksploitasi dengan UCG di Sumsel juga dapat berhasil. "Setelah Lebaran nanti akan ada penandatanganan kerja sama PTBA dan Balitbang ESDM. Studinya sendiri dilakukan selama 2013 -- 2014,"paparnya. Pemerintah sendiri menargetkan pemanfaatan UCG untuk pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) dengan kapasitas sebesar 5 MW dapat terealisasi pada 2015 mendatang.

Sementara itu Koordinator Riset Eksploitasi Tambang dan Pengelolaan Sumber Daya Mineral Balitbang Kementerian ESDM, Nendariono, mengatakan selain memiliki potensi batu bara yang besar, Sumsel juga sudah mempunyai infrastruktur gas (SSWJ). "Secara nasional, potensi sumber daya batu bara untuk UCG kedalaman 300 meter -- 1.000 meter diperkirakan mencapai 280 miliar ton dan sebagian besar ada di Sumsel,"katanya.

Dia mengatakan kegiatan UCG diharapkan dapat mengoptimalan penggunaan batu bara nasional yang ramah lingkungan dan menambah pasokan energi. Hanya saja regulasi tentang UCG dalam bentuk Peraturan Menteri belum ada. Di dalam peta jalan pengembangan UCG yang disusun Balitbang, selain ditargetkan untuk pembangkit listrik pada 2015, pihaknya juga akan mengkaji aplikasi UCG syngas untuk SNG atau BBM pada 2017 sehingga dapat mencapai komersialisasi UCG untuk bahan bakar itu. 

Oleh : Ahmad Senoadi
Dari berbagai sumber.
Load disqus comments

0 komentar