POTENSI MINYAK BUMI INDONESIA 2015


Produksi minyak bumi Indonesia sudah dilakukan sejak sebelum kemerdekaan. Berdasarkan data Kementerian ESDM, usia industri minyak bumi sudah lebih dari 100 tahun. Sempat jaya pada era 1970-1990, minyak bumi Indonesia mulai memasuki usia senja. Pada awal 1990-an, produksi sempat tercatat 1,6 juta barel per hari (barrel oil per day/BPOD) dan terus turun menjadi dibawah 1 juta barel per hari pada 2007-an. Pemerintah telah melakukan berbagai cara untuk mempertahankan tingkat produksi diatas 1 juta barel per hari, tapi hingga 2015 upaya tersebut belum tercapai. Yang bisa dilakukan adalah menahan laju penurunan produksi.


Sejak tahun 2004, penurunan produksi minyak bumi dapat ditahan dengan laju penurunan sekitar 3% per tahun. Produksi minyak bumi (termasuk kondensat) tahun 2014 adalah sebesar 789 ribu BOPD atau hanya 95,8% terhadap produksi minyak bumi tahun 2013 (824 ribu BOPD). Penurunan produksi tersebut, selain disebabkan karena usia lapangan minyak Indonesia yang sudah tua, juga karena adanya kendala teknis, seperti unplanned shutdown, kebocoran pipa, kerusakan peralatan, kendala subsurface, dan gangguan alam.

Tabel : Produksi Minyak Bumi Indonesi Tahun 2006-2015 (ribu barel per hari)

 2006  2007  2008  2009  2010  2011  2012  2013  2014  2015
BP Global
  996   972 1,003   990 1,003    942   918   882   852   825
SKKMigas 1,006   954   977   949   945   900   860   826   794   786

Sumber: BP Statistical Review of World Energy 2016 and SKKMigas

Selain itu, terjadi kendala nonteknis, seperti perizinan, lahan, sosial dan keamanan. Tak heran jika produksi puncak Blok Cepu (ladang minyak yang paling menjanjikan) juga terhambat. Penyebabnya adalah pembebasan lahan yang berlarut-larut. Akibatnya, produksi puncak mundur hingga tahun 2015. Selama tahun 2013 dan 2014, komposisi produksi minyak bumi dan kondensat adalah sekitar 90% dan 10%.

Berbagai kendala tersebut mengakibatkan realisasi produksi minyak bumi selama 5 tahun terakhir selalu lebih rendah dari rencana produksi minyak bumi dan kondensat yang ditetapkan dalam Rencana Strategis Kementerian ESDM Tahun 2010 – 2014. Bahkan pada tahun 2013 dan 2014, produksi minyak bumi dan kondensat hanya mencapai 82% pada tahun 2013 dan menurun menjadi 78% pada tahun 2014 terhadap Renstra KESDM 2010-2014.

Penurunan produksi minyak bumi Indonesia berdampak terhadap ekspor minyak bumi. Realisasi ekspor minyak bumi tahun 2013 mencapai 117 juta barrel dan menurun menjadi 110 juta barrel pada tahun 2014 atau hanya sekitar 87% dan 81% terhadap sasaran ekspor minyak bumi dalam Renstra KESDM. Ekspor minyak bumi masih diperlukan sebagai penerimaan negara dan dilakukan karena spesifikasinya kurang cocok untuk diolah di kilang yang ada. Sebaliknya, realisasi impor minyak bumi mencapai 1,31 kali dan 1,35 kali lipat lebih tinggi dari rencana impor minyak bumi tahun 2013 dan 2014.

Cadangan minyak bumi Indonesia tersebar tetapi umumnya terdapat di Sumatera, disusul Jawa, Kalimantan, dan beberapa pulau lainnya. Total cadangan minyak bumi Indonesia (terbukti dan potensial) tahun 2013 mencapai 7,55 miliar barel dan menurun menjadi 7,38 miliar barel pada tahun 2014 sebagai akibat dari penemuan cadangan minyak bumi baru yang lebih rendah dibanding dengan produksinya. Total cadangan minyak bumi tersebut hanya sekitar 88% dan 85% terhadap cadangan minyak bumi yang direncanakan dalam Renstra KESDM 2010-2014.

Gambar : Persebaran Cadangan Minyak Bumi Indonesia 2014
Sumber : Kementerian ESDM

Selain minyak bumi, Indonesia juga mengekspor BBM dalam jumlah yang terbatas. Ekspor BBM umumnya berupa minyak tanah dan minyak bakar. Ekspor minyak tanah berlangsung karena Indonesia berhasil mengurangi penggunaan minyak tanah untuk memasak secara signifikan, sehingga kelebihan minyak tanah di ekspor, setelah sebagian dikonversi menjadi avtur. Adapun ekspor minyak bakar berlangsung karena tidak terserap di dalam negeri. Ekspor BBM tersebut hanya 2,52% pada tahun 2013 dan 1,42% pada tahun 2014 terhadap rencana ekspor dalam Renstra KESDM 2010-2014.

Rendahnya realisasi ekspor BBM tersebut karena kapasitas kilang minyak bumi selama tahun 2010-2014 hanya bertambah 10 juta barel minyak mentah per hari (milion barrel crude per day/MBCD). Kapasitas kilang minyak yang praktis tidak bertambah ditengah konsumsi BBM yang terus meningkat menyebabkan impor BBM terus meningkat dari 26 juta kiloliter pada tahun 2010 menjadi 32 juta kiloliter pada tahun 2014.

Sumber :
  • Kementerian ESDM, www.esdm.go.id, diakses 2016.
  • http://www.indonesia-investments.com/id/bisnis/komoditas/minyak-bumi/item267,diakses 2016.
  • Foto :
  • http://bisnis.liputan6.com/read/748950/produksi-meleset-harga-minyak-naik-jadi-harapan-ri, diakses 2016.
Load disqus comments

0 komentar